Oleh Abdul Hakim, Dosen STISNU Nusantara Tangerang
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, di mana materialisme sering kali menggeser nilai-nilai spiritual, buku Bahan Ajar Tasawuf Hadari hadir sebagai penawar dahaga. Ia tidak sekadar mengajak kita merenung, tetapi juga memandu langkah demi langkah untuk menemukan kedamaian dalam diri dan harmoni dengan semesta. Melalui perspektif sufisme Islam dan filsafat kebudayaan, buku ini menawarkan sebuah jalan yang mengintegrasikan spiritualitas klasik dengan kesadaran kontemporer.
Apa yang menarik dari Tasawuf Hadari adalah kemampuannya menjembatani yang transenden dengan yang imanen. Ia tidak berhenti pada teori-teori abstrak tentang Tuhan dan alam, tetapi turun ke tataran praktis: bagaimana kita, sebagai manusia biasa, bisa hidup dengan penuh kesadaran.
Konsep Tiga Kitab Petunjuk—Al-Qur’an (Kitab Maknun), alam semesta (Kitab Mastur), dan diri sendiri (Kitab Marqum)—mengingatkan kita pada ajaran para sufi besar seperti Ibnu Arabi, yang melihat seluruh ciptaan sebagai cermin Tuhan. Namun, penulis tidak hanya berhenti di sana. Ia menjelaskan bagaimana “membaca” ketiga kitab ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui meditasi dan kontemplasi, kita diajak mengenali “ayat-ayat” Tuhan yang terukir dalam diri, seperti potensi DNA dan energi inti sel.
Pembahasan tentang tubuh kasar dan tubuh halus juga menarik. Tubuh kasar (unsur tanah) adalah wadah kita berinteraksi dengan dunia fisik, sementara tubuh halus (unsur gas dan cahaya) adalah pintu menuju kesadaran yang lebih tinggi. Di sini, kita melihat pengaruh pemikiran sufistik tentang hierarki wujud, tetapi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Meditasi pada titik-titik energi tertentu, seperti inti sel di tulang ekor atau pusat kehendak di ubun-ubun, mengingatkan pada praktik dzikir dalam tarekat sufi, tetapi dikemas dengan pendekatan yang lebih ilmiah.
Tasawuf Hadari tidak hanya berbicara tentang transformasi individu, tetapi juga tentang bagaimana spiritualitas bisa membentuk masyarakat yang harmonis. Inilah yang membuatnya relevan dalam kajian filsafat kebudayaan.
Penulis menekankan bahwa ketika setiap individu mencapai keselarasan diri, dampaknya akan terasa dalam tatanan sosial. Nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, dan keseimbangan dengan alam bukan sekadar ajaran moral, tetapi menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Konsep manusia sebagai khalifah di bumi tidak lagi sekadar wacana, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata: merawat lingkungan, menghormati sesama, dan hidup dengan penuh kesadaran.
Praktik meditasi yang diajarkan dalam buku ini juga bisa dilihat sebagai upaya “membudayakan kesadaran”.
Dalam masyarakat modern yang sering kali terfragmentasi, meditasi menjadi alat untuk menyatukan kembali tubuh, pikiran, dan ruh. Ini sejalan dengan gagasan filsuf kebudayaan seperti Frithjof Schuon, yang melihat tradisi spiritual sebagai fondasi bagi peradaban yang sehat.
Bahan Ajar Tasawuf Hadari adalah buku yang layak dibaca oleh siapa pun yang rindu akan kedamaian batin dan harmoni sosial. Ia tidak hanya berbicara tentang Tuhan dan alam, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hidup dengan lebih utuh—sebagai individu yang sadar dan sebagai bagian dari masyarakat yang saling mengasihi.
Dalam dunia yang semakin kompleks, tasawuf semacam ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, tetapi justru cara untuk memahami dan mengubah realitas itu sendiri.
Abdul Hakim
Senin, 1 Syawal 1446 H