
Tangerang, 25 April 2026 – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang kembali menegaskan komitmennya dalam membangun peradaban Islam melalui penguatan sanad keilmuan, integrasi ilmu, dan pembinaan akhlak. Seminar internasional yang berlangsung di Aula Perpustakaan STISNU Tangerang ini menghadirkan narasumber utama, Assaid Muhammad Ali, mantan Menteri Wakaf Mesir.
Dalam paparannya, Syaikh menjelaskan bahwa bangunan peradaban Islam bertumpu pada tiga modal utama, yaitu:
- Manusia – sebagai fondasi utama. Peradaban harus dimulai dari manusia yang memiliki karakter kuat, akhlak mulia, dan kesadaran spiritual.
- Ilmu Pengetahuan – sebagai alat untuk membangun, mengelola, dan mengembangkan kehidupan.
- Harta dan Sumber Daya – yang mencakup sumber daya alam (SDA), kesungguhan, tekad, serta kerja keras dalam menggerakkan potensi umat.

Ketiga unsur ini, menurutnya, merupakan mekanisme dasar dalam mencapai peradaban. Jika manusia kuat, ilmu berkembang, dan sumber daya dikelola dengan sungguh-sungguh, maka peradaban akan tumbuh secara kokoh.
“Peradaban dibangun dari manusia. Jika manusia berkarakter, memiliki ilmu, dan bersungguh-sungguh dalam mengelola potensi, maka peradaban akan lahir dengan sendirinya.”
Ia menegaskan bahwa seluruh modal tersebut harus diintegrasikan lintas disiplin ilmu, tanpa sekat antara bidang syariah, hukum, pendidikan, ekonomi, dan politik. Integrasi ini, lanjutnya, harus memiliki satu tujuan utama, yaitu mengarah kepada Allah SWT sebagai orientasi akhir peradaban.
Dalam kesempatan tersebut, STISNU Tangerang juga menjalin kerja sama akademik melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan lembaga Majma’ Al-Hasany yang berafiliasi dengan Al-Azhar University di Cairo, Mesir. Kerja sama ini difokuskan pada penguatan sanad keilmuan, pengembangan akademik, serta bimbingan langsung dari para ulama Al-Azhar.
Ketua STISNU Tangerang, Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum., menegaskan bahwa penguatan sanad menjadi distingsi utama dalam sistem keilmuan STISNU.
“Kita ingin membangun manusia yang berilmu dan berakhlak. Ilmu harus memiliki sanad yang jelas, dan seluruh proses pendidikan harus bermuara pada pembentukan karakter serta pengabdian kepadaAllah.”
Seminar ini menjadi momentum penting dalam merumuskan arah pembangunan peradaban Islam di Indonesia, yakni peradaban yang dibangun dari kekuatan manusia, ditopang oleh ilmu pengetahuan, serta digerakkan oleh kesungguhan dalam mengelola seluruh potensi, dengan orientasi akhir menuju ridha Allah SWT.
