Tangerang, 15 Maret 2025 – Wakil Presiden RI ke-13, KH. Ma’ruf Amin, menegaskan pentingnya peran ulama dan intelektual dalam menjaga umat dan bangsa. Hal ini disampaikannya dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tangerang di Aula Majelis Ulama Indonesia Kota Tangerang. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyoroti urgensi ilmu yang berlandaskan iman dan akhlak sebagai kunci utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Menurut KH. Ma’ruf Amin, seorang yang berilmu sejati harus menjadi ulul albab—yakni sosok yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman, berpikir sehat, dan berhati bersih. “Ilmu yang tidak disertai iman dan kebersihan hati hanya akan melahirkan kebingungan dan kesesatan,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, KH. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa ulama memiliki dua perjanjian penting: mitsaq rabbani dan mitsaq wathoniy. Mitsaq rabbani adalah perjanjian dengan Allah sebagai pewaris tugas kenabian, yang mengharuskan ulama menyampaikan pesan Ilahi dan membimbing umat sesuai dengan jalan Allah, Rasul, serta prinsip-prinsip syariat.
“Misi ketuhanan adalah tugas berat yang menuntut keikhlasan dan tanggung jawab besar. Inilah alasan para ulama berhimpun di bawah kepemimpinan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai wadah perjuangan,” jelasnya.
Selain itu, ulama juga memiliki mitsaq wathoniy, yakni tanggung jawab dalam menjaga keutuhan negara. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ulama harus memastikan umat berjalan sesuai prinsip ketuhanan, terutama dalam aspek muamalah (hubungan sosial dan ekonomi). KH. Ma’ruf Amin menekankan bahwa dalam Islam, syariat terdiri dari dua aspek utama: ibadah dan muamalah.
“Ibadah adalah ketentuan dari Allah yang sudah baku, seperti shalat dan puasa. Sedangkan muamalah bersumber dari kreativitas manusia, tetapi tetap harus berlandaskan prinsip-prinsip ketuhanan,” katanya. Beliau juga mengutip kaidah fikih: Al-ashlu fil mu’amalat al-ibahah illa ma dallah alaihid dalilu (pada dasarnya, dalam muamalah segala sesuatu diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarang).
KH. Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa ulama menghadapi dua tantangan besar dalam membimbing umat: godaan syaitan dan hawa nafsu. “Jalan yang lurus selalu dihalangi oleh kegelapan. Semua lapisan kehidupan dihadang oleh syaitan dan hawa nafsu, dan di sinilah peran ulama untuk mengembalikan umat kepada cahaya,” tegasnya.
Beliau juga menyoroti tantangan zaman post-truth, di mana kebenaran sering kali dikaburkan oleh hoaks dan manipulasi informasi. “Hari ini kita menghadapi iltibas, di mana yang benar dan salah menjadi samar. Ini adalah ujian besar bagi ulama dan kaum intelektual,” katanya.
Sebagai penjaga umat (himayah), ulama memiliki tugas besar dalam menjaga aqidah, membimbing arah bangsa, dan melindungi masyarakat dari kerusakan. Dalam konteks ini, KH. Ma’ruf Amin mengajak ISNU untuk terus mengambil peran strategis dalam menghadapi tantangan zaman dan menjaga moralitas serta intelektualitas bangsa.
Acara buka puasa bersama yang dihadiri oleh para cendekiawan dan tokoh Nahdlatul Ulama ini menjadi momentum penting bagi ISNU dalam meneguhkan kembali komitmennya sebagai wadah bagi para sarjana NU untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Hadir dalam acara ini KH. Ahmad Baijuri Khotib, MA Ketua MUI Kota Tangerang, H. Maryono Wakil Walikota Tangerang, Dr. Bahruddin, MA Ketua PW ISNU Banten, Dr. Fadli Yasir, MA Waketum PP ISNU, Dr. H. Muhamad Qustulani, MA Ketua STISNU Nusantara Tangerang, dan tamu undangan lainnya.
Dengan peran strategis yang dimiliki, ISNU diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai mitsaq rabbani dan mitsaq wathoniy dalam aksi nyata, baik dalam dunia akademik, sosial, maupun kebangsaan. “Kami akan terus berupaya menjadi bagian dari solusi, baik dalam aspek keilmuan, sosial, maupun ekonomi, demi kemaslahatan umat dan bangsa,” ujar Ketua ISNU Kota Tangerang Nur Asyik, SH.
Dengan berakhirnya acara buka puasa bersama ini, para peserta diharapkan dapat mengambil inspirasi dari pesan-pesan KH. Ma’ruf Amin, serta semakin memperkuat peran ulama dan intelektual Muslim dalam menjaga persatuan dan membimbing umat ke jalan yang benar.