
Tangerang, 2026 – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga otentisitas keilmuan Islam melalui penguatan tradisi sanad. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Perpustakaan STISNU Tangerang ini dikemas dalam seminar internasional bertema:
(Bina hadharah islamiyah min khilal takamul asy-syariah wal-qanun wat-ta’lim wal-iqtisad was-siyasah/ Membangun Peradaban Islam melalui Integrasi Syariah, Hukum, Pendidikan, Ekonomi, dan Politik.

Seminar ini menghadirkan narasumber utama, Assaid Muhammad Ali, Wakil Menteri Wakaf Mesir, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan keilmuan Islam global.
Dalam momentum strategis tersebut, STISNU Tangerang secara resmi menjalin kerja sama akademik melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan lembaga Majma’ Al-Hasany yang berafiliasi dengan Al-Azhar University, Cairo, Mesir.
Kerja sama ini difokuskan pada penguatan sanad keilmuan, pengembangan akademik, serta bimbingan transformasi keilmuan berbasis tradisi ulama. Program ini diharapkan mampu menghadirkan model pendidikan tinggi Islam yang tidak hanya modern dan adaptif, tetapi juga tetap berakar kuat pada otoritas keilmuan klasik yang bersambung hingga sumber-sumber utama Islam.
Ketua STISNU Tangerang, Muhamad Qustulani, menegaskan bahwa penguatan sanad merupakan distingsi utama STISNU dalam membangun tradisi akademik.
“Keilmuan Islam tidak cukup hanya berbasis literasi teks, tetapi harus memiliki rujukan sanad yang jelas dan bersambung. Inilah yang menjadi kekuatan utama peradaban Islam. STISNU ingin memastikan bahwa setiap kajian keislaman yang dikembangkan memiliki legitimasi keilmuan yang otentik.”
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dalam konteks Indonesia, tradisi sanad merupakan bagian dari local wisdom yang telah lama dijaga oleh para ulama Nusantara. Integrasi antara pendekatan akademik modern dengan tradisi sanad menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan keilmuan Islam di tengah tantangan globalisasi.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen STISNU untuk mendapatkan akses bimbingan langsung dari para ulama dan akademisi di Cairo, termasuk dalam bidang kajian syariah, hukum Islam, pendidikan, hingga ekonomi dan politik Islam.
Dalam kesempatan yang sama, Assaid Muhammad Ali menyampaikan apresiasi mendalam, dirinya menyambut baik kerjasama ini.
“Kami merasa bahagia dan bangga atas apa yang dilakukan STISNU, karena sanad adalah bukti kesinambungan ilmu dan keberlanjutannya dari generasi ke generasi.” Ujarnya
Pernyataan ini menegaskan bahwa sanad bukan sekadar tradisi, melainkan fondasi utama dalam menjaga keaslian dan otoritas ilmu dalam peradaban Islam.
Dengan langkah ini, STISNU Tangerang semakin mengukuhkan diri sebagai institusi pendidikan berbasis pesantren yang berorientasi global, sekaligus menjadi bagian dari jejaring keilmuan Islam internasional.
Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam membangun peradaban Islam yang berakar pada tradisi, namun tetap relevan dengan dinamika zaman.