Kalam, Gerak dan Kisah: KKM STISNU Nusantara Tutup Pengabdian di Desa Kubang dengan Pentas Seni Penuh Makna
Asrori
Penulis
KOTA TANGERANG — Tidak semua perpisahan harus berakhir dengan kesunyian. Di Kampung Bojong Manuk, Desa Kubang, Kecamatan Sukamulya, berakhirnya rangkaian Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) STISNU Nusantara Tangerang justru dirayakan melalui kata, gerak, seni, dan kisah kebersamaan.
Mengusung tema “Kalam, Gerak dan Kisah: Menutup Bakti dengan Indahnya Tradisi”, mahasiswa KKM STISNU Nusantara Tangerang menggelar Penutupan KKM dan Pentas Seni pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026, di Sundung Literasi, Kampung Bojong Manuk.
Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut menjadi momentum perpisahan sekaligus ungkapan terima kasih mahasiswa kepada masyarakat yang selama ini telah menerima, mendampingi, dan menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian mereka.
Malam itu, Sundung Literasi tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya acara. Ruang tersebut berubah menjadi panggung kebersamaan. Mahasiswa, masyarakat, anak-anak pengajian, siswa sekolah, pemuda, hingga tokoh lingkungan berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua RT Kampung Bojong Manuk, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), perwakilan Pemerintah Desa Kubang, Kepala Sekolah SDIT Raudhah, pimpinan MT Misykatul Anwar, siswa-siswi SDIT Raudhah, anak-anak pengajian MT Misykatul Anwar, pemuda-pemudi, serta warga Kampung Bojong Manuk.

Acara dipandu oleh Adnan Cahyadi dan Anisa Rosida. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua KKM dan Ketua RT, sebelum kemudian memasuki rangkaian pentas seni yang melibatkan mahasiswa maupun masyarakat.
Dalam sambutannya, Ibnu Affan Dunnurein, Ketua KKM STISNU Nusantara Tangerang di Kampung Bojong Manuk, Desa Kubang, menyampaikan bahwa KKM bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan proses belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat.
“Bagi kami, KKM ini bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi tentang bagaimana kami bisa belajar dari masyarakat, membangun kedekatan, dan meninggalkan sesuatu yang mudah-mudahan bisa memberikan manfaat. Selama berada di sini, kami mendapatkan banyak pengalaman dan cerita yang tidak akan mudah kami lupakan,” ungkap Ibnu.
Menurutnya, penutupan kegiatan KKM tidak berarti berakhirnya hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.
“Kami datang sebagai mahasiswa, tetapi selama berada di sini kami merasa menjadi bagian dari keluarga masyarakat. Kalau malam ini adalah penutupan kegiatan KKM, bukan berarti silaturahmi kita juga ikut ditutup. Semoga hubungan baik ini tetap terjaga,” tambahnya.
Pesan tersebut seolah menjadi benang merah sepanjang malam. KKM memang memiliki batas waktu, tetapi pengalaman dan hubungan yang lahir dari proses pengabdian tidak harus berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi.
Apresiasi juga disampaikan Ketua RT Kampung Bojong Manuk, Bapak Ma’ruf, yang mengungkapkan rasa terima kasih kepada mahasiswa KKM karena telah hadir dan berbaur dengan masyarakat.
“Kami sebagai masyarakat mengucapkan terima kasih kepada anak-anak mahasiswa yang sudah hadir di sini, sudah mau berbaur dan ikut membantu kegiatan masyarakat. Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan selama KKM bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat dan menjadi kenangan yang baik bagi semuanya,” ujarnya.

Setelah sambutan, suasana berubah menjadi lebih semarak. Anak-anak pengajian MT Misykatul Anwar tampil memberikan persembahan. Kehadiran mereka menjadi gambaran kedekatan yang terbangun antara mahasiswa KKM dengan anak-anak selama pelaksanaan kegiatan pendidikan dan keagamaan.
Pentas kemudian dilanjutkan dengan Pidato Bahasa Arab, yang menjadi salah satu persembahan dalam malam penutupan. Penampilan tersebut memperlihatkan keberanian peserta untuk tampil sekaligus menunjukkan potensi pendidikan dan keagamaan yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Suasana semakin cair ketika pemuda-pemudi Kampung Bojong Manuk tampil dalam Puisi Berantai. Pergantian karakter, ekspresi, dan permainan kata menghadirkan suasana yang menghibur sekaligus menunjukkan kreativitas generasi muda setempat.
Tidak kalah menarik, siswa dan siswi SDIT Raudhah turut tampil membawakan tarian dan AMIL. Dengan penuh semangat dan percaya diri, anak-anak tersebut tampil di hadapan masyarakat dan para mahasiswa KKM.
Panggung kemudian semakin meriah melalui Tari Wonderland Indonesia yang dibawakan oleh peserta KKM bersama pemuda-pemudi Kampung Bojong Manuk. Persembahan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya Indonesia sekaligus menghadirkan hiburan yang mempertemukan mahasiswa dan masyarakat dalam satu panggung.
Salah satu momen paling emosional malam itu hadir melalui penayangan After Movie KKM STISNU Nusantara Tangerang. Video tersebut merangkum perjalanan mahasiswa selama melaksanakan pengabdian di Kampung Bojong Manuk—mulai dari kedatangan, pelaksanaan program kerja, kegiatan pendidikan dan keagamaan, interaksi dengan masyarakat, hingga berbagai momen kebersamaan yang telah dilalui.

Ketika gambar-gambar perjalanan itu kembali hadir di layar, waktu seolah diputar mundur. Berbagai kegiatan yang sebelumnya dijalani sebagai rutinitas pengabdian berubah menjadi kenangan yang memiliki makna tersendiri.
Tawa, kebersamaan, kegiatan bersama anak-anak, perjumpaan dengan warga, hingga berbagai dinamika selama KKM menjadi bagian dari sebuah cerita yang malam itu kembali dikenang bersama. Bagi mahasiswa, After Movie bukan sekadar dokumentasi. Ia menjadi semacam arsip emosional tentang sebuah fase kehidupan yang telah mereka jalani bersama masyarakat.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Mahasiswa KKM Dampingi UMKM Desa Buaran Bambu Urus NIB dan Sertifikasi Halal
30 Agt 2026
Monitoring KKM STISNU Nusantara Tangerang, Pimpinan Kampus Pastikan Pengabdian Mahasiswa Hadir di Tengah Masyarakat
27 Agt 2026
Dari Masjid Tangerang hingga Masjidil Haram, Kisah Umaedi Menjalankan KKM di Tanah Suci
26 Agt 2026