Lewati ke konten utama
Umum 26 Agustus 2026 · 2 dibaca

Dari Masjid Tangerang hingga Masjidil Haram, Kisah Umaedi Menjalankan KKM di Tanah Suci

A

Asrori

Penulis

Dari Masjid Tangerang hingga Masjidil Haram, Kisah Umaedi Menjalankan KKM di Tanah Suci

KOTA TANGERANG — Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) biasanya identik dengan aktivitas mahasiswa di desa, masjid, sekolah, atau tengah-tengah masyarakat. Namun, KKM Kelompok 1 Pendidikan Kader Ulama (PKU) STISNU Nusantara Tangerang tahun 2026 menghadirkan cerita yang berbeda.

Ketika sebagian mahasiswa Kelompok 1 bergerak dari masjid ke masjid di wilayah Kecamatan Cibodas, Jatiuwung, dan Periuk, salah seorang anggotanya, Umaedi, justru menjalankan pengabdian di tempat yang jauh dari Tangerang: Tanah Suci Makkah dan Madinah.

Bukan sekadar berada di Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah, Umaedi menjalankan amanah sebagai pendamping jamaah umrah. Ia membawa jamaah, mendampingi perjalanan mereka, memberikan bimbingan, serta membantu memastikan jamaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan baik dan tertib.

Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengabdian Umaedi dalam rangka KKM. Ia menjadikan tugas pendampingan dan pelayanan kepada jamaah sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat dalam ruang dan situasi yang berbeda.

Umaedi merupakan mahasiswa KKM Kelompok 1 PKU STISNU Nusantara Tangerang yang mengikuti program beasiswa kerja sama LP2KU MUI Kota Tangerang dan BAZNAS Kota Tangerang. Di tengah kewajibannya sebagai mahasiswa, ia mendapat amanah untuk mendampingi jamaah umrah di dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Di Makkah, Umaedi mendampingi jamaah dalam menjalankan rangkaian ibadah umrah, mulai dari memberikan arahan mengenai persiapan ibadah, membantu jamaah memahami tata cara dan ketentuan ibadah, hingga memastikan jamaah mendapatkan pendampingan selama berada di tempat-tempat ibadah.

Sementara di Madinah, pendampingan dilanjutkan dengan membantu jamaah dalam rangkaian ziarah dan kegiatan ibadah, termasuk memberikan penjelasan serta bimbingan agar perjalanan spiritual jamaah berlangsung dengan nyaman dan penuh pemahaman.

Bagi Umaedi, mendampingi jamaah bukan sekadar menjalankan tugas teknis perjalanan. Ia melihatnya sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat sekaligus kesempatan untuk mengamalkan pengetahuan yang diperoleh selama menjadi mahasiswa PKU STISNU Nusantara Tangerang.

“Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menjalankan dua amanah sekaligus. Di satu sisi saya ditugaskan mendampingi jamaah umrah di Tanah Suci, tetapi di sisi lain saya juga tetap memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa dalam kegiatan KKM. Bagi saya, mendampingi dan membimbing jamaah juga merupakan bentuk pengabdian karena kita hadir untuk membantu, melayani, dan memberikan manfaat kepada orang lain,” ujar Umaedi.

Menurutnya, pengalaman mendampingi jamaah di Makkah dan Madinah memberikan pelajaran tersendiri. Ia berhadapan dengan jamaah yang memiliki latar belakang, usia, kemampuan, dan pengalaman ibadah yang beragam. Kondisi tersebut menuntut kesabaran, komunikasi, pengetahuan keagamaan, serta kemampuan memberikan pelayanan secara langsung.

“Menjadi pendamping jamaah mengajarkan saya banyak hal. Kita harus sabar, mampu berkomunikasi dengan jamaah, memahami kebutuhan mereka, dan memastikan mereka tidak kebingungan dalam menjalankan ibadah. Di situlah saya merasakan bahwa ilmu yang dipelajari di kampus harus hadir dalam pelayanan nyata,” katanya.

Meskipun secara geografis terpisah ribuan kilometer dari anggota Kelompok 1 lainnya, Umaedi tetap berkomunikasi dengan kelompoknya dan mengikuti perkembangan kegiatan KKM. Anggota Kelompok 1 lainnya menjalankan program pengabdian di sejumlah masjid di wilayah Cibodas, Jatiuwung, dan Periuk. Mereka melakukan pendataan masjid untuk mendukung Peta Dakwah MUI Kota Tangerang, sosialisasi Aplikasi Menara Masjid BAZNAS, serta memperkenalkan program Satu Masjid Satu Sarjana STISNU Nusantara Tangerang.

Sementara Umaedi menjalankan pengabdian dalam bentuk berbeda melalui pelayanan langsung kepada jamaah di Tanah Suci. Dua lokasi yang berbeda tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat dan umat.

“Bagi saya, pengabdian tidak selalu harus dilakukan di satu tempat. Teman-teman menjalankan kegiatan di masjid-masjid Tangerang, sementara saya menjalankan amanah di Makkah dan Madinah dengan mendampingi dan membimbing jamaah. Tempatnya berbeda, tetapi semangatnya sama, yaitu memberikan manfaat dan menjalankan amanah sebaik-baiknya,” tutur Umaedi.

Ia berharap pengalaman tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga menjadi pengalaman hidup yang membentuk karakter sebagai kader ulama yang memiliki kepedulian sosial dan kemampuan melayani masyarakat.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!