Lewati ke konten utama
stisnunusantara@gmail.com
Umum 16 September 2026 · 67 dibaca

Perkuat Budaya Akademik dan Publikasi Dosen, LP3M STISNU Nusantara Tangerang Ikuti Bimtek Penulisan Karya Ilmiah PTKIS

A

Asrori

Penulis

Perkuat Budaya Akademik dan Publikasi Dosen, LP3M STISNU Nusantara Tangerang Ikuti Bimtek Penulisan Karya Ilmiah PTKIS

KOTA TANGERANG - Komitmen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang dalam memperkuat budaya akademik, penelitian, dan publikasi ilmiah terus diperkuat. Hal tersebut ditunjukkan melalui keikutsertaan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) STISNU Nusantara Tangerang dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Karya Ilmiah Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 16 September 2026, bertempat di Aula I Gedung Kopertais UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bimtek diikuti oleh sekitar 85 perwakilan PTKIS dari wilayah kerja Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten. STISNU Nusantara Tangerang turut mengambil bagian dengan mengutus Ketua LP3M, Asrori, MA., sebagai perwakilan institusi.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Koordinator (Wakor) Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten, Prof. Dr. Sururin, M.Ag. Dalam sambutannya, Prof. Sururin menekankan bahwa kemampuan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas merupakan bagian penting dari penguatan mutu perguruan tinggi Islam.

“Karya ilmiah bukan sekadar persyaratan administratif bagi dosen, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab akademik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat. Karena itu, kemampuan menulis, meneliti, dan mempublikasikan hasil penelitian harus terus diperkuat,” ujar Prof. Sururin.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan proses pendidikan dan pengajaran, tetapi juga harus membangun ekosistem akademik yang memungkinkan dosen menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian dan publikasi.

“Kita ingin PTKIS tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang produksi pengetahuan. Dosen harus didorong untuk memiliki tradisi membaca, meneliti, menulis, dan mempublikasikan gagasan secara konsisten. Bimtek seperti ini menjadi salah satu ikhtiar untuk membangun tradisi tersebut,” lanjutnya.

Setelah kegiatan Bimtek resmi dibuka, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, M.A., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Prof. Maila dikenal sebagai akademisi dengan bidang riset yang mencakup resiliensi, thriving, pendidikan, serta pengembangan STEM lintas disiplin yang inklusif untuk kemajuan peradaban.

Dalam forum tersebut, Prof. Maila memberikan penguatan mengenai pentingnya membangun karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi aspek teknis penulisan, tetapi juga memiliki pertanyaan penelitian yang kuat, argumentasi yang jelas, kontribusi keilmuan, serta relevansi terhadap persoalan nyata.

Ia mendorong para dosen PTKIS untuk melihat kegiatan menulis sebagai bagian dari proses berpikir akademik, bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi tuntutan publikasi.

“Menulis karya ilmiah pada dasarnya adalah proses membangun pengetahuan. Karena itu, dosen perlu berangkat dari persoalan yang jelas, memiliki pertanyaan yang kuat, menggunakan metodologi yang tepat, dan mampu menunjukkan apa kontribusi penelitian tersebut bagi ilmu pengetahuan maupun masyarakat,” ungkap Prof. Maila.

Menurutnya, kualitas artikel ilmiah tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya halaman atau rumitnya metode yang digunakan. Yang jauh lebih penting adalah ketajaman masalah, kebaruan perspektif, kekuatan argumentasi, dan kejelasan kontribusi penelitian.

“Jangan menulis hanya karena ingin memiliki artikel. Menulislah karena ada persoalan yang ingin dijelaskan, ada pengetahuan yang ingin dikembangkan, dan ada kontribusi yang ingin diberikan. Ketika proses berpikirnya kuat, tulisan akan memiliki nilai akademik,” jelasnya.

Prof. Maila juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan akademik secara berkelanjutan. Dosen perlu memiliki ekosistem yang mendukung proses membaca, melakukan penelitian, berdiskusi, menulis, mendapatkan umpan balik, hingga mempublikasikan karya.

Prof. Maila tercatat menempati peringkat ke-24 dari 150 ilmuwan Indonesia dalam kategori “Top 2% Scientist Single-year Impact” berdasarkan daftar ilmuwan yang masuk dalam pemeringkatan tersebut.

Pengalaman akademiknya menjadi salah satu modal penting dalam memberikan perspektif kepada para dosen mengenai bagaimana membangun karya ilmiah yang memiliki kualitas, relevansi, dan kontribusi keilmuan.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!