Lewati ke konten utama
stisnunusantara@gmail.com
Umum 16 Mei 2026 · 31 dibaca

Pancasila dalam Kacamata Kristen: Kuliah Tamu STISNU Tangerang yang Membuka Ruang Dialog Lintas Iman

F

Fani

Penulis

Pancasila dalam Kacamata Kristen: Kuliah Tamu STISNU Tangerang yang Membuka Ruang Dialog Lintas Iman

TANGERANG — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun tradisi akademik yang inklusif dan dialogis melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Mata Kuliah Filsafat Pancasila bertema “Nilai-Nilai Universal Pancasila dalam Perspektif Iman Kristen”, Sabtu (16/5/2026), di Perpustakaan STISNU Nusantara Tangerang.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber tunggal, Bapak Pdt. Doni Susanto, Penggembala GBI Rising Star Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Sementara itu, diskusi dipandu oleh Bapak Asrori, M.A., dosen Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI) STISNU Nusantara Tangerang.

Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa STISNU Nusantara Tangerang sebagai bagian dari implementasi pembelajaran Mata Kuliah Filsafat Pancasila yang menekankan penguatan wawasan kebangsaan, moderasi beragama, serta dialog lintas iman dalam ruang akademik.

Dalam pengantarnya, Bapak Asrori, M.A. menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang perjumpaan gagasan, nilai, dan kemanusiaan. Menurutnya, dialog lintas agama perlu dibangun secara akademis agar mahasiswa mampu memahami perbedaan secara dewasa dan konstruktif.

“Pancasila adalah titik temu kebangsaan kita. Melalui forum seperti ini, mahasiswa belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dipahami dan dirawat bersama,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Bapak Pdt. Doni Susanto menjelaskan bahwa nilai-nilai dasar Pancasila memiliki keselarasan dengan ajaran iman Kristen, terutama dalam aspek ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Ia menekankan bahwa agama Kristen tumbuh dan berkembang di Indonesia dalam naungan Pancasila yang menjamin kehidupan beragama secara damai dan harmonis.

Ia juga menjelaskan bahwa inti iman Kristen yang menekankan kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia memiliki relevansi kuat dengan semangat kemanusiaan dan persatuan yang terkandung dalam Pancasila.

“Indonesia membutuhkan Pancasila sebagai perekat kebangsaan. Dalam masyarakat yang majemuk, nilai-nilai inklusif menjadi sangat penting untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian bersama,” ungkapnya.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para mahasiswa tampak antusias mengajukan pertanyaan mengenai hubungan agama dan negara, toleransi antarumat beragama, hingga tantangan menjaga harmoni sosial di tengah meningkatnya polarisasi dan konflik identitas di era digital.

Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi pembelajaran berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan RPS berbasis Outcome Based Education (OBE) yang menekankan pengalaman belajar kontekstual, penguatan karakter kebangsaan, serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam menghadapi realitas sosial yang plural.

Melalui kuliah tamu ini, STISNU Nusantara Tangerang menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mendorong lahirnya generasi intelektual yang moderat, terbuka, dan mampu membangun dialog lintas iman demi memperkuat kerukunan umat beragama dan persatuan bangsa Indonesia.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!