Kajian Turats Mingguan STISNU Tangerang Bedah Buku “Mengapa Setiap Bid’ah adalah Sesat?”
Asrori
Penulis
KOTA TANGERANG — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang kembali menyelenggarakan Kajian Turats Mingguan, Kamis (8/10/2026), bertempat di Ruang Perpustakaan STISNU Tangerang. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap Kamis ini menjadi salah satu ruang akademik-keislaman bagi mahasiswa untuk membaca, memahami, dan mendiskusikan khazanah keilmuan Islam secara lebih kritis dan mendalam.
Pada kajian kali ini, mahasiswa diajak membedah buku Kull Bid’ah Dalalah dengan tema “Mengapa Setiap Bid’ah adalah Sesat?”. Kajian menghadirkan Dr. KH. Mohamad Mahrusilah, M.Pd, yang juga merupakan penulis buku tersebut, sebagai narasumber.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa STISNU Nusantara Tangerang dan bersifat wajib sebagai bagian dari penguatan tradisi akademik dan intelektual mahasiswa. Melalui forum tersebut, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk membaca teks keislaman secara tekstual, tetapi juga diajak memahami konteks, argumentasi, serta latar belakang munculnya berbagai pandangan dalam tradisi keilmuan Islam.

Sebagai penulis buku yang dikaji, Dr. KH. Mohamad Mahrusilah, M.Pd., menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi membaca karya-karya keislaman di kalangan mahasiswa.
“Turats tidak cukup hanya disimpan di perpustakaan atau dibaca untuk kepentingan akademik semata. Turats harus dihidupkan melalui pembacaan, dialog, dan pengujian argumentasi agar mahasiswa mampu memahami bagaimana para ulama membangun sebuah pandangan.”
Menurutnya, persoalan bid’ah merupakan salah satu tema yang membutuhkan kehati-hatian dalam pembahasannya. Pemahaman terhadap istilah bid’ah tidak dapat dilepaskan dari bahasa, konteks hadis, metodologi ulama, serta perkembangan pemikiran Islam sepanjang sejarah.
“Ketika kita membahas ‘kullu bid’ah dhalalah’, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bid’ah, bagaimana para ulama menjelaskan hadis tersebut, dan dalam konteks apa sebuah praktik dikategorikan sebagai bid’ah. Jangan sampai sebuah teks yang kompleks dipahami secara sederhana, lalu digunakan untuk mudah menyalahkan orang lain.”

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dalam khazanah Islam merupakan bagian dari sejarah intelektual umat Islam. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara perbedaan pendapat ilmiah dan sikap saling menyesatkan.
“Mahasiswa harus belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu berarti pertentangan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memahami dalil, metodologi, dan argumentasi yang digunakan oleh masing-masing ulama. Dengan begitu, kajian turats tidak berhenti pada hafalan, tetapi melahirkan tradisi berpikir yang kritis sekaligus tetap beradab.”
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Dari Akad Digital hingga Kemandirian Ekonomi: STISNU Nusantara Tangerang Ajak Santri Menjawab Tantangan Zaman
23 Okt 2026
KARYA DOSEN STISNU: Fikih Tak Boleh Berhenti pada Masa Lalu, Buku Pendidikan Fiqh Kontemporer Mengajak Islam Menjawab Tantangan Zaman
23 Okt 2026
Semarak Hari Santri Nasional 2026, DEMA STISNU Nusantara Tangerang dan Aliansi Mahasiswa Musholla Gelar Enam Cabang Lomba
22 Okt 2026