Lewati ke konten utama
stisnunusantara@gmail.com
Umum 26 September 2026 · 66 dibaca

Abah Ali Zen: Miskin maupun Kaya, Manusia Tetap Membutuhkan Pengetahuan

A

Asrori

Penulis

Abah Ali Zen: Miskin maupun Kaya, Manusia Tetap Membutuhkan Pengetahuan

KOTA TANGERANG —Abah Ali Zen menyampaikan pesan penting kepada mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) STISNU 2026, Jum’at 25 September 2026. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan merupakan bekal yang tidak pernah kehilangan relevansinya dalam kehidupan manusia.

Di hadapan para mahasiswa, Abah Ali Zen menegaskan bahwa kebutuhan terhadap ilmu tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi maupun posisi seseorang dalam kehidupan. Orang yang berada dalam keadaan kekurangan membutuhkan pengetahuan untuk menemukan jalan keluar dan membangun kehidupan yang lebih baik. Begitu pula orang yang telah berada dalam kondisi kaya dan berlimpah tetap membutuhkan ilmu agar mampu mengelola kehidupan dan kekayaannya dengan benar.

“Di posisi miskin, kita butuh pengetahuan. Di posisi kaya dan berlimpah juga butuh pengetahuan. Semua untuk menghadapi kehidupan,” pesan Abah Ali Zen.

Menurutnya, kehidupan manusia akan selalu berhadapan dengan berbagai persoalan, perubahan, pilihan, dan tantangan. Karena itu, seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk bekerja atau memperoleh penghasilan. Ia juga membutuhkan pengetahuan untuk memahami keadaan, menentukan pilihan, serta mengambil langkah yang tepat.

Abah Ali Zen mengajak mahasiswa agar menjadikan masa kuliah sebagai bagian penting dari proses mempersiapkan diri menghadapi kehidupan. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun pola pikir, memperluas wawasan, mengasah kemampuan, dan menemukan arah kehidupan.

Ia menekankan pentingnya setiap aktivitas memiliki visi dan misi. Menurutnya, seseorang yang menjalani kehidupan tanpa arah akan mudah kehilangan tujuan ketika menghadapi perubahan atau kesulitan.

“Semua aktivitas harus punya visi dan misi,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya di STISNU. Mereka tidak hanya dituntut untuk mengikuti proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga perlu memikirkan tujuan yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pendidikan.

Ilmu yang diperoleh selama berada di kampus diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja, kehidupan sosial, keluarga, serta berbagai tantangan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi melahirkan kemampuan untuk membaca realitas dan mengambil peran di tengah masyarakat.

 

Abah Ali Zen juga mengingatkan bahwa kondisi kehidupan seseorang dapat berubah. Hari ini seseorang mungkin berada dalam keterbatasan, tetapi dengan ikhtiar dan pengetahuan ia dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, seseorang yang telah berada dalam kelimpahan tetap membutuhkan ilmu agar tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak berhenti belajar hanya karena telah memperoleh gelar sarjana. Belajar merupakan proses sepanjang hayat yang dibutuhkan dalam setiap fase kehidupan.

Nasihat tersebut menjadi salah satu pesan reflektif dalam PBAK STISNU 2026: ilmu dibutuhkan bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk mampu menjalani kehidupan dengan arah, visi, misi, dan tanggung jawab.

Bagi mahasiswa STISNU, pendidikan di kampus diharapkan menjadi awal perjalanan untuk membangun diri, memperkuat kapasitas, dan kelak memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!