STISNU Nusantara Tangerang Ambil Bagian dalam Gerakan Pancasila Reboot: Dari Gagasan Menuju Gerakan Nyata
Asrori
Penulis
KOTA TANGERANG – Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, diajarkan sebagai materi pendidikan, atau diperingati dalam berbagai seremoni kenegaraan. Pancasila harus tumbuh menjadi kesadaran kolektif dan diwujudkan dalam perilaku sosial, kehidupan berbangsa, serta praktik kepemimpinan. Gagasan inilah yang mengemuka dalam kegiatan Nation Leaders Roundtable & Launching Asesmen Nilai Kepemimpinan Pancasila (ANKP) bertajuk “Pancasila Reboot: Dari Gagasan Menuju Gerakan”, yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 November 2026, di Cisadane 3 & 4, Sutera Hall, Mall @ Alam Sutera, Tangerang.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, yakni Mayjen TNI Dr. Frega F. Wenas Inkiriwang, Ph.D., FHEA, Deputi Geostrategi Dewan Pertahanan Nasional; Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum., Ketua STISNU Nusantara Tangerang; serta Pdt. Johan Kristantara, M.Th., Kepala Bidang Kesaan dan Keutuhan Ciptaan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Diskusi dipandu oleh Ary M. Wibowo, S.T., M.Th.
Forum ini menjadi ruang perjumpaan lintas sektor untuk mendiskusikan relevansi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi persoalan kebangsaan sekaligus mendorong lahirnya gerakan konkret dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan Pancasila. Peluncuran Asesmen Nilai Kepemimpinan Pancasila (ANKP) juga menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan instrumen refleksi dan evaluasi terhadap internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik kepemimpinan.
Dalam forum tersebut, Ketua STISNU Nusantara Tangerang, Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum., menyoroti persoalan mendasar dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, yakni masih adanya kesenjangan antara Pancasila sebagai ideologi negara dan kenyataan perilaku sosial masyarakat.
Menurutnya, Pancasila telah lama menjadi dasar negara dan konsensus kebangsaan, tetapi nilai-nilainya belum sepenuhnya menjelma menjadi kesadaran yang hidup dalam diri masyarakat.
“Persoalan kita hari ini bukan karena Indonesia tidak memiliki Pancasila. Pancasila sudah menjadi dasar negara, ideologi, dan kesepakatan kebangsaan. Namun, persoalannya adalah apakah Pancasila sudah benar-benar menjadi kesadaran masyarakat? Ketika intoleransi masih terjadi, persekusi terhadap kelompok yang berbeda masih berlangsung, bahkan kekerasan atas nama identitas masih muncul, kita perlu melakukan refleksi secara serius terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila,” ungkap Qustulani.

Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan normatif, melainkan harus menjadi etika sosial yang membentuk cara masyarakat berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesama manusia.
“Pancasila harus hadir dalam tindakan sehari-hari. Menghormati perbedaan, menolak kekerasan, membangun keadilan, serta menjaga martabat kemanusiaan merupakan bentuk konkret dari pengamalan Pancasila. Karena itu, kita membutuhkan gerakan kebudayaan dan pendidikan yang mampu menjadikan Pancasila sebagai kesadaran, bukan sekadar hafalan,” tambahnya.
Sementara itu, Mayjen TNI Dr. Frega F. Wenas Inkiriwang, Ph.D., FHEA, dalam kapasitasnya sebagai Deputi Geostrategi Dewan Pertahanan Nasional, memberikan perspektif mengenai pentingnya Pancasila dalam menghadapi dinamika geopolitik dan tantangan strategis bangsa.
Dalam perspektif geostrategis, Pancasila bukan hanya dasar ideologis kehidupan bernegara, tetapi juga fondasi ketahanan nasional. Di tengah perubahan tatanan dunia, persaingan kekuatan global, disrupsi teknologi, dan berbagai ancaman terhadap persatuan bangsa, Indonesia membutuhkan landasan nilai yang mampu menjaga orientasi dan identitas nasional.
“Ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, ekonomi, maupun teknologi. Ada dimensi ideologis dan karakter kebangsaan yang juga sangat menentukan. Pancasila harus menjadi kompas dalam membaca perubahan lingkungan strategis sekaligus menjadi fondasi untuk menjaga persatuan dan ketahanan nasional,” demikian salah satu gagasan yang dapat dikembangkan dalam pandangan Frega.
Dari perspektif lintas iman, Pdt. Johan Kristantara, M.Th., Kepala Bidang Kesaan dan Keutuhan Ciptaan PGI, memberikan penekanan pada pentingnya menjadikan Pancasila sebagai landasan membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman agama, keyakinan, budaya, dan identitas masyarakat Indonesia.
Keberagaman, menurut perspektif ini, bukan alasan untuk saling mencurigai atau mempertentangkan identitas, melainkan kenyataan kebangsaan yang harus dirawat melalui dialog, penghormatan, dan kerja sama.
“Pancasila harus menjadi ruang perjumpaan bagi seluruh warga bangsa. Perbedaan agama, keyakinan, dan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun sekat dan permusuhan. Justru melalui nilai-nilai Pancasila, kita belajar untuk saling menghormati, menjaga persaudaraan, dan bekerja bersama demi kemanusiaan serta keutuhan bangsa,” merupakan rumusan pesan yang relevan dengan perspektif lintas iman yang dibawanya.
Partisipasi STISNU Nusantara Tangerang dalam forum ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi tersebut untuk mengambil bagian dalam memikirkan dan menggerakkan Pancasila melalui pendekatan pendidikan, kajian intelektual, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bahkan, STISNU telah mengembangkan inisiatif Ngaji Pancasila, sebuah gerakan edukasi kebangsaan yang dilakukan melalui roadshow ke sekolah-sekolah. Program ini menjadi ikhtiar untuk mendekatkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda dengan pendekatan dialogis, edukatif, dan kontekstual.

Melalui Ngaji Pancasila, Pancasila tidak hanya diperkenalkan sebagai rumusan lima sila yang harus dihafalkan, tetapi juga dikaji sebagai landasan etika, filsafat kebangsaan, dan pedoman kehidupan bersama. Para pelajar diajak memahami hubungan antara nilai-nilai Pancasila dengan persoalan aktual, seperti intoleransi, perundungan, kekerasan, diskriminasi, keadilan sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Bagi STISNU, pendidikan Pancasila harus bergerak dari ruang kelas menuju ruang kehidupan. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori kebangsaan, tetapi juga harus berkontribusi membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran kebangsaan, menjunjung tinggi kemanusiaan, serta mampu merawat keberagaman.
Keterlibatan STISNU dalam forum Pancasila Reboot dengan demikian merupakan bagian dari upaya memperluas gerakan tersebut. Perguruan tinggi, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan berbagai elemen masyarakat perlu membangun kolaborasi agar Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Dari Gagasan Menuju Gerakan: STISNU Nusantara Tangerang dan IMP Teken MoU untuk Menggerakkan Nilai-Nilai Pancasila
8 Nov 2026
STISNU dan BSN Jalin Kerja Sama Strategis, Perkuat Tridharma dan Ekosistem Ekonomi Syariah
5 Nov 2026
Ketua STISNU: Bangga dengan BAZNAS Kota Tangerang, Kreativitas Program dan Prestasinya Menginspirasi Indonesia
4 Nov 2026