Dapat Arahan PCNU Kota Tangerang: STISNU Nusantara Diharapkan Perkuat Sinergi dan Akhlak Mahasiswa
Fani
Penulis
Kota Tangerang – Pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang melakukan silaturahim dan sowan ke PCNU Kota Tangerang yang berlangsung di Pondok Pesantren Raudlatussalam, Cimone, Kota Tangerang, kediaman Rais Syuriah PCNU Kota Tangerang, KH. Abdul Muthi, Sabtu (23/5) Sore. Pertemuan tersebut menjadi ajang laporan perkembangan kampus sekaligus memohon arahan terkait penguatan kelembagaan, pengembangan program, dan pembinaan mahasiswa.
Di dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Tangerang, KH. Ahmad Kahfi, menegaskan pentingnya membangun sinergi dan kolaborasi antara STISNU Nusantara Tangerang dengan PCNU Kota Tangerang. Menurut beliau, berbagai program yang dijalankan kampus perlu dikomunikasikan dan dilaporkan secara berkala agar dapat disinergikan dengan program-program PCNU demi memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
“STISNU dan PCNU harus saling menguatkan. Program-program kampus perlu disampaikan agar dapat disinergikan dengan program organisasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujar beliau.
Sementara itu, KH. Abdul Muthi memberikan arahan mengenai pentingnya akhlak dalam kehidupan akademik maupun dalam penyampaian aspirasi mahasiswa. Beliau menekankan agar mahasiswa mengedepankan dialog, tabayun, dan musyawarah sebelum menempuh langkah-langkah lainnya.
Mengutip Mufidul Ulum, beliau menjelaskan bahwa nasihat dan kritik hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, santun, serta bertujuan menghadirkan kemaslahatan bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua STISNU Nusantara Tangerang, H. Muhamad Qustulani, menyampaikan laporan mengenai kondisi kampus saat ini serta perjalanan panjang berdirinya perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Tangerang.
Menurutnya, STISNU Nusantara lahir dari semangat khidmat dan amanat para kiai Nahdlatul Ulama agar masyarakat pesantren, kader NU, serta kalangan menengah ke bawah memperoleh akses pendidikan tinggi yang terjangkau.
“STISNU hari ini masih belajar berjalan. Pondasi kelembagaan terus kami perkuat. Kampus ini tidak lahir dari kekuatan modal yang besar, tetapi tumbuh dari semangat khidmat, gotong royong, dan dukungan moral para kiai serta kader Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan STISNU merupakan bagian dari cita-cita para sesepuh NU, di antaranya KH. Edi Djunaedi Nawawi dan KH. A. Basyir Nasuhi, agar para santri, kader Banser, anak petani, buruh, dan masyarakat kecil memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau.
Karena itu, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila hingga saat ini STISNU belum mampu memberikan kontribusi yang lebih besar kepada PCNU Kota Tangerang maupun PCNU Kabupaten Tangerang. Menurutnya, fokus utama kampus saat ini adalah memperkuat keberlangsungan lembaga dan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Menanggapi arahan terkait penyampaian aspirasi mahasiswa, H. Muhamad Qustulani menegaskan bahwa mahasiswa STISNU dididik dalam tradisi pesantren dan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang mengedepankan adab, etika, serta penghormatan kepada guru, ulama, dan para pemimpin.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan tabayun dan tidak mudah memberikan stigma terhadap mahasiswa STISNU.
“Dalam tradisi NU, kita diajarkan untuk bertabayun sebelum mengambil kesimpulan. Pernah ada pihak yang meminta klarifikasi kepada kami terkait seorang koordinator lapangan aksi yang disebut sebagai mahasiswa STISNU. Setelah ditelusuri, ternyata yang bersangkutan berasal dari kampus lain. Karena itu, kami berharap tidak mudah memberikan stigma kepada sebuah lembaga tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu,” ujarnya.
Menurutnya, kritik dan aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Namun dalam tradisi Nahdlatul Ulama, penyampaiannya harus tetap mengedepankan akhlakul karimah, musyawarah, serta tujuan perbaikan.
“Kalaupun menyampaikan aspirasi, kami selalu mengajarkan adab terlebih dahulu. Bahkan beberapa anggota dewan pernah menyampaikan kepada kami bahwa setelah menyampaikan aspirasi, mahasiswa tetap bersalaman dan mencium tangan sebagai bentuk penghormatan. Tradisi hormat kepada guru dan pemimpin inilah yang terus kami jaga,” katanya.
Ia menambahkan bahwa stigma yang kerap dilekatkan kepada mahasiswa STISNU sebagai kelompok yang selalu melakukan demonstrasi tidak sepenuhnya tepat. "Selama ini, stigma STISNU Nusantara selalu melekat saat ada demo di lembaga-lembaga pemerintah Kota Tangerang dan Kab. Tangerang," jelasnya.
Menurutnya, aksi mahasiswa merupakan fenomena yang juga dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Karena itu, penilaian terhadap STISNU hendaknya dilakukan secara proporsional dan berdasarkan fakta. Karena yang banyak melakukan demo itu organisasi eksternal yang di luar kontrol institusi secara kelembagaan.
"Sering juga terjadi oknum koordinator demo mengatasnamakan mahasiswa STISNU. Tapi, saat dicek ulang oleh bagian kemahasiswaan ternyata tidak ada mahasiswa Nusantara yang bernama," klarifikasinya.
“Kami tidak anti terhadap aspirasi. Namun yang kami tanamkan adalah bagaimana aspirasi disampaikan dengan santun, bertanggung jawab, dan tetap menjaga adab. Dalam tradisi pesantren, perbedaan pandangan diselesaikan dengan dialog, tabayun, dan musyawarah,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kehidupan kemahasiswaan di STISNU dibangun dalam kultur ke-NU-an. Organisasi yang beraktivitas di lingkungan kampus merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari proses kaderisasi, penguatan nilai Aswaja, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pertemuan di Pondok Pesantren Raudlatussalam tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara STISNU Nusantara Tangerang dan PCNU Kota Tangerang dalam membangun pendidikan tinggi yang terjangkau, berakhlak, serta berpihak kepada masyarakat kecil, santri, dan kader Nahdlatul Ulama.
“Dengan sinergi, tabayun, dan akhlakul karimah, STISNU berkomitmen menjadi kampus kaderisasi yang terus mengabdi untuk umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.”
Hadir dalam anjangsana itu segenap pengurus harian PCNU Kota Tangerang, jajaran pimpinan STISNU, pengurus harian Pergunu Kota Tangerang dan pengurus harian PMII
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!